
Cakranusantara.net, Pati || Ketika sumber air mulai mengering, truk tangki menjadi harapan. Ketika tangki datang, warga bergegas membawa jeriken dan ember. Begitulah wajah krisis air bersih yang kembali dialami sejumlah masyarakat Kabupaten Pati setiap musim kemarau.
Di Desa Tondokerto, Kecamatan Jakenan, kondisi tersebut kembali mendapat perhatian. Memasuki tahap kedua, Forum Wartawan Pati (FWP) menyalurkan dua tangki air bersih berkapasitas masing-masing 6.600 liter. Total 13.200 liter air didistribusikan kepada warga.
Bantuan itu tentu sangat berarti.
Namun ada pertanyaan yang lebih besar di balik 13.200 liter air tersebut:
Sampai kapan warga harus menunggu truk tangki setiap kali kemarau datang jika tidak diberikan solisi oleh PDAM Tirta Bening?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan.
Data BPBD Kabupaten Pati periode 23 Juli hingga 3 September 2026 mencatat 24 desa di sembilan kecamatan terdampak kekeringan. Sebanyak 2.831 kepala keluarga atau 9.323 jiwa ikut merasakan dampaknya.
Dalam periode yang sama, BPBD telah mendistribusikan 74 tangki air bersih dengan total 351.000 liter kepada masyarakat terdampak.
Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan masyarakat ketika sumber air mulai tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bantuan Datang, Tetapi Krisis Kembali
FWP memilih tidak hanya menjadi pihak yang memberitakan persoalan tersebut. Para wartawan yang tergabung dalam FWP ikut turun langsung mengirimkan bantuan.
Ketua FWP Ari Saptono mengatakan penyaluran air merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
“Ini merupakan bantuan tahap kedua dari FWP. Kami ingin sekadar meringankan beban warga yang saat ini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kekeringan,” kata Ari.
FWP bahkan berencana kembali menyalurkan bantuan pada tahap berikutnya selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
Sebelumnya, FWP telah mengirimkan lima tangki atau sekitar 32.500 liter air bersih ke Desa Tambahmulyo, Kecamatan Jakenan, dan Desa Soko, Kecamatan Gabus.
Tetapi muncul satu persoalan yang tidak bisa dijawab hanya dengan distribusi tangki.
Mengapa persoalan yang sama terus berulang?
Pemerintah Dituntut Naik Kelas
Distribusi air bersih merupakan langkah penting dalam kondisi darurat. Namun jika dilakukan berulang setiap musim kemarau, pemerintah perlu bergerak lebih jauh dari sekadar penanganan jangka pendek.
Pemetaan desa rawan kekeringan harus diperkuat. Sumber air perlu dipetakan dan dilindungi. Infrastruktur penyimpanan air harus diperbanyak. Jaringan distribusi perlu diperluas.
Termasuk optimalisasi peran PDAM Tirta Bening dalam memperluas akses air perpipaan bagi wilayah yang secara teknis memungkinkan mendapatkan layanan.
Perencanaan anggaran juga harus diarahkan pada solusi yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap bantuan tangki.
Sebab, persoalan air tidak selesai ketika tangki meninggalkan desa.
Warga masih harus hidup setelah air bantuan habis.
Mereka tetap harus memasak, minum, mandi, mencuci dan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.
Jangan Biarkan Tangki Menjadi Simbol Ketidakmampuan Sistem
Kepedulian FWP layak diapresiasi. Ketika masyarakat membutuhkan air, bantuan yang datang jelas memberikan manfaat nyata.
Tetapi pemerintah tidak boleh menjadikan gotong royong masyarakat sebagai alasan untuk mengendurkan tanggung jawab negara dalam menyediakan kebutuhan dasar.
FWP bisa membantu.
BPBD bisa mendistribusikan.
Relawan bisa bergerak.
Perusahaan daerah bisa mengambil bagian.
Tetapi pada akhirnya, jaminan ketersediaan air bersih bagi masyarakat merupakan persoalan pelayanan publik yang membutuhkan sistem dan perencanaan jangka panjang.
Tondokerto hanya satu dari puluhan desa yang terdampak.
Jika setiap kemarau pola yang terjadi selalu sama—sumur mengering, warga kesulitan, lalu truk tangki berdatangan—maka yang harus dievaluasi bukan hanya jumlah tangki yang tersedia.
Yang harus dipertanyakan adalah seberapa siap sistem penyediaan air bersih menghadapi kemarau berikutnya.
Karena air bersih bukan kemurahan hati.
Air bersih adalah hak dasar masyarakat.
Dan warga Pati berhak mendapatkan jawaban: kapan mereka bisa keluar dari siklus menunggu tangki setiap musim kemarau?







Komentar