
Cakranusantara.net, Pati || Kekeringan di Kabupaten Pati semakin meluas. Sekitar 1.700 hektare lahan terdampak, sementara sekitar 40 desa diproyeksikan menjadi sasaran penanganan air bersih. Kondisi tersebut mendorong Pemkab Pati segera menaikkan status dari siaga darurat menjadi tanggap darurat kekeringan.
Rencana peningkatan status itu dibahas dalam Rapat Koordinasi dan Pembahasan Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan di Ruang Kembangjoyo Sekretariat Daerah Kabupaten Pati, Kamis (17/9/2026).
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mengatakan peningkatan status mengacu pada Peraturan Bupati Pati Nomor 36 Tahun 2013. Berdasarkan ketentuan tersebut, kondisi kekeringan yang terjadi dinilai telah memenuhi syarat untuk dilakukan peningkatan status.
“Status akan diperbarui besok karena harus ditandatangani seluruh Forkopimda Kabupaten Pati,” ujar Chandra usai rakor.
Jika penetapan tersebut telah ditandatangani, Pemkab Pati menargetkan distribusi air bersih mulai bergerak pada Senin mendatang.
Sekitar 40 desa terdampak akan menjadi sasaran distribusi air. Pembiayaan disiapkan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD, dengan opsi dukungan CSR Bank Jateng.
Anggaran awal yang disiapkan mencapai sekitar Rp250 juta. Namun, penggunaannya akan disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing wilayah terdampak.
Chandra menegaskan, distribusi air bersih hanya menjadi solusi untuk menghadapi kondisi darurat. Persoalan kekeringan Pati dinilai membutuhkan penanganan jangka panjang agar ketergantungan terhadap bantuan air tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Pemkab Pati pada 2027 mengupayakan pembangunan sumur dalam di sejumlah titik sumber air desa terdampak dengan dukungan Kementerian PUPR.
Selain itu, pemerintah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas filterisasi air yang diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 600 galon air bersih per hari di setiap titik.
“Kabupaten Pati ini kalau musim kemarau kekeringan, tetapi kalau musim hujan kebanjiran, sehingga kita harus mencari solusi penanganan air yang berkelanjutan,” ungkap Chandra.
Dengan meluasnya wilayah terdampak, penetapan status tanggap darurat diharapkan mempercepat mobilisasi anggaran dan distribusi air bersih. Di sisi lain, pembangunan sumber air permanen menjadi pekerjaan rumah agar persoalan kekeringan tidak kembali menjadi siklus tahunan di Pati.







Komentar