Chandra: Budaya Pati Harus Masuk Sekolah, Generasi Muda Jangan Cuma Jadi Penonton

Cakranusantara.net, Pati || Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mendorong seni dan budaya daerah tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan generasi muda. Menurutnya, pengenalan budaya sejak bangku sekolah penting agar anak-anak Pati mengenal, mencintai, sekaligus mampu melestarikan warisan budaya daerah.

Pesan tersebut disampaikan Chandra saat menghadiri Gelar Seni Budaya Tahun 2026 di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (27/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, Pemkab Pati menampilkan Sendratari Sapi Pragolo sebagai salah satu bentuk pengenalan kekayaan seni budaya Pati.

Chandra mengapresiasi penampilan para pelajar dari sejumlah SMP di Kabupaten Pati yang tampil membawakan berbagai pertunjukan seni budaya. Ia menilai, penampilan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda Pati memiliki potensi dan talenta besar di bidang kesenian.

“Dengan kesenian, anak-anak dapat bekerja sama, bahu membahu untuk menampilkan pertunjukan yang luar biasa,” ujar Chandra.

Menurutnya, kesenian bukan sekadar aktivitas pentas. Di dalamnya terdapat proses pembentukan karakter, kerja sama, kedisiplinan, kreativitas, hingga keberanian untuk tampil di hadapan publik.

Karena itu, Chandra memberikan apresiasi kepada para kepala sekolah yang ikut mendorong pelaksanaan Gerakan Seni Masuk Sekolah (GSMS). Program tersebut dinilai memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengenal seni dan budaya sekaligus mengembangkan kemampuan bekerja sama.

Chandra juga menilai keberadaan kegiatan seni semakin penting di tengah perkembangan zaman modern. Ketika pola interaksi masyarakat terus berubah, kegiatan kesenian dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk membangun kebersamaan, saling mendukung, dan meningkatkan rasa percaya diri.

“Melalui kegiatan kesenian, anak-anak bisa belajar bekerja sama, saling mendukung, sekaligus membangun rasa percaya diri,” jelasnya.

Ia turut memberikan apresiasi kepada Sanggar Karawitan Seni Kabupaten Pati yang selama ini konsisten berkontribusi dalam menjaga dan melestarikan kesenian daerah.

Pemkab Pati, lanjut Chandra, akan terus mendorong kegiatan kesenian dan pementasan budaya bagi generasi muda. Salah satunya melalui rencana menghidupkan kembali Alun-Alun Kembang Joyo sebagai salah satu pusat kegiatan kesenian pada 2027, dengan dukungan fasilitas panggung yang lebih lengkap.

Bagi Chandra, kesempatan tampil di Anjungan Jawa Tengah TMII juga menjadi pengalaman penting bagi para pelajar. Panggung tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi agar mereka terus mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki.

Selain penguatan seni di lingkungan sekolah, Chandra berharap kolaborasi dengan paguyuban masyarakat Jawa Tengah, termasuk para perantau asal Pati, dapat terus terjalin. Kolaborasi tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkenalkan budaya Pati sekaligus mendukung pembangunan daerah.

Gelar Seni Budaya Tahun 2026 diikuti peserta didik dari sejumlah SMP di Kabupaten Pati, Sanggar Karawitan Seni Kabupaten Pati, perwakilan Paguyuban Perantau Masyarakat Jawa Tengah di Jakarta, serta undangan dan masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang promosi potensi seni budaya Pati di tingkat lebih luas. Di sisi lain, panggung tersebut memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk menunjukkan bakat, kreativitas, dan kemampuan mereka dalam menjaga keberlanjutan budaya daerah.

250 Talenta Ramaikan Putra Putri Budaya Kabupaten Pati

Cakranusantara.net, Pati || Sebanyak 250 talenta muda dari enam kabupaten berkumpul di Kabupaten Pati untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperkuat kecintaan terhadap seni dan budaya. Mereka ambil bagian dalam Pemilihan Putra Putri Budaya Kabupaten Pati 2026 yang dibuka Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra di Omah Kuno, Jalan Diponegoro Nomor 115, Pati, Jumat (4/9/2026).

Ajang tersebut bukan sekadar kompetisi mencari pemenang. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi ruang bagi generasi muda untuk berani tampil, mengasah kemampuan, sekaligus mengenal dan ikut menjaga warisan seni budaya di tengah derasnya perubahan zaman.

Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra meminta seluruh peserta tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Menurutnya, keberanian tampil dan proses latihan merupakan bagian penting dari perjalanan mereka.

“Anak-anakku semua yang sekarang ini ikut berlomba, tetap semangat. Tunjukkan talenta kalian dan tunjukkan hasil latihan kalian. Menang kalah adalah hal yang biasa,” kata Chandra.

Dari total 250 peserta, sebanyak 120 anak mengikuti sesi pagi untuk kategori TK dan SD. Sedangkan sekitar 130 peserta mengikuti sesi malam untuk kategori remaja.

Kompetisi tersebut juga terbuka bagi peserta dari luar Kabupaten Pati. Sedikitnya enam kabupaten mengirimkan perwakilan untuk ambil bagian dalam ajang budaya tersebut.

Bagi Chandra, pengalaman yang diperoleh peserta selama mengikuti kompetisi jauh lebih panjang nilainya dibanding sekadar hasil akhir perlombaan. Latihan, keberanian naik ke panggung, hingga perjuangan menunjukkan kemampuan akan menjadi pengalaman yang melekat dalam perjalanan mereka.

“Malam ini adalah malam kenangan kalian semua. Tentunya ini akan menjadi catatan sejarah bagi anak-anakku semua,” tutur Chandra.

Seni Jangan Berhenti di Panggung

Komitmen terhadap pengembangan seni dan budaya, lanjut Chandra, harus dibangun secara berkelanjutan. Salah satunya melalui Gerakan Seni Masuk Sekolah (GSMS) yang memberikan ruang bagi seni dan budaya untuk tumbuh di lingkungan pendidikan.

Program tersebut sebelumnya juga mendapat perhatian Menteri yang meninjau langsung pelaksanaannya di Kabupaten Pati.

Chandra menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlangsungan tradisi dan budaya. Sebab, generasi muda yang saat ini duduk di bangku sekolah merupakan penerus yang akan menentukan apakah warisan budaya tetap hidup atau justru perlahan ditinggalkan.

“Dengan seni dan budaya kita bisa bersatu. Kita bersama bisa bergandengan tangan, bisa bekerja sama untuk terus mengupayakan tradisi dan budaya ini terus menggema di sekolah-sekolah,” kata Chandra.

Menurutnya, berbagai kegiatan seni dan budaya harus terus diperbanyak. Tidak hanya menjadi bagian dari agenda peringatan hari besar, tetapi juga menjadi ruang rutin bagi generasi muda untuk berekspresi dan mengenal identitas budayanya.

Rangkaian kegiatan seni tersebut turut menjadi bagian dari agenda Hari Jadi Kabupaten Pati dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Acara-acara seperti ini perlu ditingkatkan,” tegasnya.

Juri Diminta Transparan dan Akuntabel

Di tengah kompetisi yang diikuti ratusan peserta, Chandra juga memberikan perhatian terhadap proses penilaian. Ia meminta dewan juri menjalankan tugas secara profesional agar seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang adil.

“Pesan kami kepada Dewan Juri untuk tetap menilai dengan baik, dengan transparan dan akuntabel. Karena mereka adalah putra-putri terbaik yang hari ini melaksanakan kegiatan Lomba Mas dan Mbak Budaya 2026,” ujarnya.

Kehadiran peserta dari enam kabupaten di sekitar Pati juga dinilai memberikan warna tersendiri. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut membuka ruang pertemuan dan pertukaran pengalaman seni serta budaya antardaerah.

Chandra menyambut kedatangan para peserta dari luar daerah dan berharap kegiatan tersebut dapat memperluas hubungan serta kolaborasi dalam pengembangan budaya.

“Kepada peserta dari kabupaten-kabupaten lain yang hari ini melaksanakan kegiatan yang sama, selamat datang,” katanya.

Pembukaan Pemilihan Putra Putri Budaya Kabupaten Pati 2026 turut dihadiri jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Pati, panitia penyelenggara, dewan juri, sponsor, serta seluruh peserta.

Dari panggung kompetisi itu, Pati kembali mengirim pesan bahwa budaya tidak cukup hanya dikenang. Budaya harus dikenalkan, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

GOW Pati : Modern Boleh Asal Akar Budaya Jangan Hilang

Cakranusantara.net, Pati || Arus modernisasi yang semakin deras tidak boleh membuat generasi muda tercerabut dari akar budaya dan kehilangan jati diri. Kemajuan zaman harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas dan nilai-nilai budaya bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Pati, Dwi Risma Ardhi Chandra, saat menghadiri Lomba Keserasian Busana dan Make Up antarorganisasi wanita di Pendopo Kabupaten Pati, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Pati dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dwi menegaskan, generasi muda saat ini menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat. Karena itu, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman harus dibarengi dengan karakter kuat serta pemahaman terhadap budaya sendiri.

“Generasi muda saat ini hidup di tengah perubahan yang sangat cepat. Yang penting adalah bagaimana kita membangun generasi yang mampu beradaptasi dengan kemajuan, tetapi tetap memiliki akar budaya dan jati diri,” kata Dwi.

Menurutnya, budaya berbusana nasional bukan sekadar persoalan penampilan. Lebih dari itu, busana nasional merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu dikenalkan, ditanamkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kami menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini karena memiliki maksud dan tujuan untuk menanamkan budaya berbusana nasional kepada para wanita,” ujarnya.

Dwi mengatakan, pelestarian budaya juga menjadi salah satu bagian dari program kerja GOW Kabupaten Pati, termasuk penguatan budaya nasional dan budaya Jawa.

Pelestarian tersebut dilakukan melalui berbagai momentum, mulai dari peringatan hari nasional, sosialisasi, pelantikan organisasi, hingga kegiatan peragaan busana.

Menurut Dwi, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni. Dibutuhkan konsistensi agar nilai-nilai budaya tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

“Kami berharap GOW Kabupaten Pati dapat menyelesaikan seluruh program kerja dengan lancar sehingga setiap kegiatan dapat berjalan sukses,” katanya.

Lomba Keserasian Busana dan Make Up antarorganisasi wanita tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan GOW Kabupaten Pati dalam memperingati Hari Jadi Kabupaten Pati dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Kegiatan itu diikuti berbagai organisasi wanita di Kabupaten Pati dengan mengangkat semangat pelestarian budaya melalui busana, penampilan, serta kreativitas peserta.

Di tengah derasnya modernisasi, pesan GOW Pati menjadi pengingat bahwa mengikuti perkembangan zaman bukan berarti harus meninggalkan identitas. Modern boleh, tetapi akar budaya dan jati diri jangan sampai hilang.

Chandra: Jangan Biarkan Talenta Anak Pati Mati Tanpa Panggung

Cakranusantara.net, Pati || Pemerintah Kabupaten Pati mulai membidik sekolah sebagai ruang strategis untuk menghidupkan kembali seni dan budaya di kalangan generasi muda. Mulai bulan depan, program seniman masuk sekolah akan digulirkan dari jenjang SD hingga SMA.

Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menegaskan, seni dan budaya tidak boleh hanya muncul ketika ada seremoni atau perayaan besar. Talenta anak-anak Pati harus diberi ruang secara nyata agar berkembang dan memiliki panggung.

Pesan itu disampaikan Chandra saat menghadiri Aubade dan Upacara Penurunan Bendera dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Alun-Alun Pati, Senin (17/8/2026).

Chandra menilai serenade yang melibatkan ratusan siswa bukan sekadar hiburan. Penampilan tersebut menjadi bentuk kreativitas generasi muda dalam menerjemahkan semangat perjuangan para pahlawan.

“Serenade ini bermakna perjuangan yang selama ini dilaksanakan oleh pahlawan bangsa. Anak-anak mengisinya dengan pertunjukan seni, talenta, dan kreativitas,” ujar Chandra.

Menurutnya, pendekatan terhadap seni dan budaya harus diperluas. Karena itu, Pemkab Pati akan membawa seniman langsung ke lingkungan sekolah.

“Bulan depan kesenian akan mulai masuk ke sekolah-sekolah, dari SD sampai SMA,” tegasnya.

Program tersebut akan dikembangkan melalui pertunjukan dan karnaval budaya. Bukan sekadar menonton, pelajar juga didorong menjadi pelaku yang berani tampil dan mengembangkan kemampuan mereka.

Chandra menegaskan, semakin banyak ruang ekspresi, semakin besar pula peluang lahirnya talenta baru dari Pati.

“Kita akan lebih sering mengadakan acara kesenian di Kabupaten Pati. Talenta anak-anak harus punya ruang untuk ditampilkan,” katanya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada para seniman Pati yang terlibat dalam persiapan serenade. Menurutnya, sentuhan seniman daerah mampu memperkuat kualitas pertunjukan sekaligus memberikan pengalaman kreatif kepada para pelajar.

Penampilan Paskibraka Pati juga mendapat apresiasi khusus. Chandra menilai koreografi dan gerakan yang ditampilkan mampu menghadirkan pertunjukan spektakuler sekaligus menggugah emosi penonton.

Menurutnya, penampilan tersebut bahkan tidak kalah dibandingkan pertunjukan Paskibraka di tingkat nasional.

Rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pati dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI masih akan dilanjutkan dengan berbagai hiburan untuk masyarakat. Pertunjukan wayang dan kesenian lainnya disiapkan sebagai bagian dari ungkapan syukur atas kemerdekaan.

Bagi Chandra, tantangannya bukan sekadar menggelar pertunjukan, tetapi memastikan anak-anak Pati memiliki panggung yang cukup untuk menunjukkan siapa mereka dan apa yang mampu mereka ciptakan. Seni tidak boleh hidup hanya saat seremoni; ia harus tumbuh di sekolah, di tengah masyarakat, dan menjadi bagian dari masa depan generasi muda Pati.

Lomba Agustusan, Chandra Singgung Soal Peningkatan Layanan Publik

Cakranusantara.net, Pati || Rangkaian lomba dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Pati dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang digelar Pemerintah Kabupaten Pati di Halaman Setda Pati, Rabu (12/8/2026), tak sekadar menjadi ajang hiburan. Kegiatan tersebut dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat kebersamaan ASN sekaligus mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik.

Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menegaskan, pelayanan publik merupakan cerminan Pemerintah Kabupaten Pati di mata masyarakat sehingga kualitasnya harus terus ditingkatkan.

“Pelayanan publik adalah wajah cermin Kabupaten Pati yang harus kita tingkatkan. Lomba ini bukan sekadar seremonial, tetapi untuk memupuk kerja sama dan keguyuban para ASN sebagai pelayan masyarakat,” kata Chandra.

Menurutnya, peringatan kemerdekaan harus dimaknai lebih dari sekadar kegiatan tahunan. Kebersamaan dan kekompakan antar-ASN menjadi modal penting dalam membangun koordinasi serta menjalankan tugas pemerintahan dengan lebih baik.

“Kita adalah pelayan masyarakat. Karena itu, pelayanan yang kita berikan harus terus diperbaiki, sebab pelayanan publik merupakan wajah Kabupaten Pati di mata masyarakat,” ujarnya.

Chandra juga mengajak masyarakat untuk turut memeriahkan rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang akan digelar pada 18 Agustus mendatang di Alun-Alun Kabupaten Pati.

Dalam agenda Doa Bersama dan Makan Bersama tersebut, Pemkab Pati menyiapkan sekitar 10.000 porsi makanan khas Kabupaten Pati untuk masyarakat.

“Mari hadir bersama di Alun-Alun Kabupaten Pati pada 18 Agustus. Kita berdoa bersama dan menikmati makanan khas Pati yang telah disiapkan untuk masyarakat,” tutur Chandra.

Rangkaian lomba yang diikuti seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) tersebut menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Selain menciptakan suasana meriah, kegiatan itu juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan membangun keguyuban di lingkungan aparatur pemerintah daerah.

Dalam kegiatan tersebut, Chandra turut ambil bagian dalam lomba makan kerupuk bersama Pj Sekretaris Daerah, para Staf Ahli Bupati, dan Asisten Sekda.

Sementara itu, para peserta dari sejumlah OPD mengikuti berbagai perlombaan, di antaranya estafet sarung, berjalan di atas kertas, dan estafet karet.

Chandra : Budaya Pati Harus Masuk Sekolah, Generasi Muda Jangan Cuma Jadi Penonton

Cakranusantara.net, Pati || Pelestarian budaya Pati harus dimulai sejak bangku sekolah. Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mendorong kesenian dan budaya lokal menjadi bagian dari ruang belajar generasi muda agar warisan budaya daerah tidak sekadar dikenal, tetapi juga dipahami, dipelajari, dan dilestarikan.

Pesan tersebut disampaikan Chandra saat tampil dalam Pagelaran Seni Wayang Orang “Ampak-Ampak Ngalengko” dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Pati ke-703 dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Pendopo Kabupaten Pati, Minggu (9/8/2026).

Chandra menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam membangun kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah. Anak-anak, menurutnya, perlu diberikan kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan seni sehingga memiliki kedekatan dengan budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.

“Anak-anak kita harus terus belajar seni, belajar budaya, khususnya budaya Kabupaten Pati,” kata Chandra.

Ia menegaskan, mengenalkan budaya kepada generasi muda tidak cukup hanya melalui teori. Pembelajaran seni perlu diperkuat dengan pengalaman langsung melalui berbagai kegiatan kesenian dan budaya.

“Jangan sampai anak-anak kita hanya mengenal budaya dari cerita atau melihat pertunjukan. Mereka harus diberikan ruang untuk belajar dan mengenal seni yang ada di daerahnya,” ujarnya.

Menurut Chandra, keberadaan seni tradisi merupakan bagian penting dari identitas daerah. Karena itu, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga keberlangsungannya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Komisi D DPRD Kabupaten Pati yang terus mendorong berbagai kegiatan kesenian di Kabupaten Pati.

“Terima kasih kepada Komisi D yang terus mengupayakan agar kesenian hadir di Kabupaten Pati,” ungkapnya.

Pagelaran Wayang Orang “Ampak-Ampak Ngalengko” menjadi salah satu contoh ruang pelestarian budaya yang sekaligus menghadirkan hiburan dan pesan moral kepada masyarakat.

Pertunjukan tersebut mengisahkan perjalanan seorang tokoh yang menghadapi berbagai rintangan hingga akhirnya kembali ke jalan yang benar. Nilai-nilai kehidupan yang disampaikan melalui cerita menjadi salah satu kekuatan seni tradisi dalam memberikan pembelajaran kepada masyarakat.

Chandra menegaskan, kegiatan semacam itu harus terus dilanjutkan dan tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

“Acara-acara seperti ini harus kita dukung. Terus kita support untuk kemajuan budaya dan tradisi seni budaya Kabupaten Pati,” tegasnya.

Forkopimda dan DPRD Akan Pentas Ketoprak

Tidak hanya mendorong keterlibatan generasi muda, Chandra juga ingin para pemangku kepentingan di Kabupaten Pati ikut mengambil bagian dalam pelestarian seni tradisi.

Ia mengungkapkan rencana pertunjukan ketoprak yang akan melibatkan unsur Forkopimda Kabupaten Pati bersama anggota DPRD. Pertunjukan tersebut direncanakan digelar pada momentum tahun baru di Alun-Alun Kabupaten Pati.

Menurut Chandra, keterlibatan pejabat daerah dan anggota legislatif dalam pertunjukan seni bukan sekadar hiburan. Langkah tersebut dapat menjadi contoh sekaligus ajakan kepada masyarakat bahwa budaya merupakan tanggung jawab bersama.

“Kalau semua ikut terlibat, masyarakat juga akan semakin dekat dengan kesenian daerah. Ini yang harus terus kita bangun,” katanya.

Chandra berharap ekosistem seni dan budaya di Kabupaten Pati semakin berkembang. Sekolah, pemerintah, DPRD, pelaku seni, komunitas, dan masyarakat diharapkan dapat berjalan bersama agar kesenian tradisional tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Baginya, budaya Pati bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Budaya harus kita jaga, kita hidupkan, dan kita wariskan kepada anak-anak kita,” pungkasnya.

Chandra: Pembangunan Pati Harus Selaras dengan Pemajuan Kebudayaan

Cakranusantara.net, Pati || Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menegaskan pembangunan Kabupaten Pati harus berjalan selaras dengan pemajuan kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan bukan sekadar pelengkap pembangunan, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun daerah yang maju, sejahtera, dan berdaya saing.

Hal itu disampaikan Chandra saat membuka Karnaval Budaya Festival Adhi Loka Pati 2026 di Alun-Alun Kabupaten Pati, Sabtu (8/8/2026) malam.

Chandra mengatakan kemajuan daerah tidak semata-mata diukur dari pembangunan fisik. Kekayaan budaya yang dimiliki Pati juga harus mendapatkan ruang dalam arah pembangunan daerah.

“Pembangunan di Kabupaten Pati harus berjalan selaras antara pembangunan fisik dan pembangunan kebudayaan, di mana kebudayaan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan pembangunan menuju Kabupaten Pati yang maju, sejahtera, dan berdaya saing,” ujar Chandra.

Menurutnya, Kabupaten Pati memiliki kekayaan budaya yang menjadi modal penting bagi pembangunan daerah. Saat ini, enam karya budaya Pati telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Dua di antaranya, yakni Gongcik dan Kethoprak, ditetapkan pada 2025.

“Capaian ini menunjukkan bahwa Pati memiliki kekayaan budaya yang harus terus dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Chandra berharap Karnaval Budaya Festival Adhi Loka Pati dapat menjadi etalase keberagaman budaya dari seluruh kecamatan di Kabupaten Pati. Ia juga menekankan agar kegiatan budaya tidak berhenti pada aspek hiburan, tetapi mampu menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.

“Jadikan karnaval ini sebagai ruang untuk mengenalkan kekayaan budaya Pati kepada generasi muda. Budaya harus terus hidup, tumbuh, dan menjadi bagian dari perjalanan masyarakat,” ucapnya.

Selain menjadi ruang ekspresi budaya, festival tersebut diharapkan mampu memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Kehadiran pelaku UMKM dan potensi wisata daerah menjadi bagian dari ekosistem kegiatan yang mempertemukan kebudayaan dengan aktivitas ekonomi lokal.

Chandra menilai penguatan sektor kebudayaan, pariwisata, dan UMKM dapat dilakukan secara bersamaan untuk membuka peluang pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Budaya, pariwisata, dan UMKM harus dapat bergerak bersama. Ketika potensi budaya dikemas dengan baik, maka akan menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Semangat tersebut, lanjut Chandra, sejalan dengan tema Hari Jadi ke-703 Kabupaten Pati, “Sumunar Terang Mbangun Kamajengan.”

Karnaval Budaya Festival Adhi Loka Pati 2026 diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Pati pada Sabtu (8/8/2026), mulai pukul 18.00 WIB di Alun-Alun Kabupaten Pati. Kegiatan tersebut diikuti dan disaksikan masyarakat sebagai bagian dari perayaan keberagaman sekaligus penguatan jati diri kebudayaan daerah.

Hadir dalam kegiatan tersebut Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra, Forkopimda beserta istri, Pj Sekretaris Daerah, para Staf Ahli Bupati dan Asisten Sekda, kepala perangkat daerah, para camat, serta para kepala bagian di lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.

Hadiri Sedekah Laut, Chandra Tegaskan Komitmennya Dukung Sektor Perikanan

Cakranusantara.net, Pati ||
Bertempat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Unit II, Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra, Minggu (29/3), menghadiri acara sedekah laut yang telah menjadi tradisi tahunan masyarakat.

Chandra menyampaikan bahwa kehadirannya bukan hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal, tetapi juga sebagai wujud dukungan nyata terhadap sektor perikanan yang selama ini menjadi andalan Kabupaten Pati.

“Kali ini saya ikut datang dan ikut mendoakan agar Allah SWT memberi keberkahan bagi nelayan, agar tahun ini hasil laut melimpah, harga bagus, dan pemasaran lancar,” ujarnya.

Sedekah laut ini merupakan rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak Jumat hingga Selasa pekan berikutnya, yang diisi dengan berbagai acara seperti pertunjukan ketoprak, kesenian rakyat, serta kegiatan hiburan lainnya yang melibatkan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Plt. Bupati Pati turut mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dalam penyelenggaraan hiburan pada kegiatan tradisi masyarakat, termasuk dalam acara sedekah laut maupun sedekah bumi, khususnya terkait penggunaan sound horeg.

“Kalau untuk acara sedekah bumi kemarin sudah ada imbauannya, tidak boleh lebih dari 16 sub. Tolong itu dipatuhi karena jangan sampai mengganggu lingkungan, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kaca pecah, kerusakan-kerusakan, maupun tawuran,” tegasnya.

Aturan Dibuat Untuk Dilanggar, Gelar Hiburan Malam Hari di Monopoli Oknum APH

Cakranusantara.net, Pati || Gonjang – ganjing hiburan malam di kabupaten Pati  menjadi monopoli pihak Oknum APH (Aparat Penegak Hukum ) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Hal ini terjadi pada hari Sabtu malam Minggu di Dukuh Jrembun, Desa , Kecamatan Winong, Sabtu (28/3/2026).

Masyarakat Pati menjadi bingung dengan adanya larangan hiburan halal bihalal pada malah hari, di karenakan banyak masyarakat yang sudah inden (panjer) hiburan dangdut dari satu tahun sebelumya, akan tetapi pihak APH mendadak mengeluarkan larangan pada  17 Maret 2026 yang lalu agar tidak menggelar Hiburan pada malam hari.

Jelas masyarakat menjadi bingung, banyak yang batal atau di alihkan pada siang hari (kalau pihak dangdut tidak main pas hari siang) di karenakan takut panjernya hilang. Semestinya, kalau mau membuat aturan seharusnya jauh-jauh hari jangan sepenak udelnya biar tidak merugikan masyarakat secara umum.

Inisial Hr selaku tokoh masyarakat pati mengeluhkan,  kalau memang tidak boleh mengadakan hiburan pas malam hari seharusnya satu kabupaten ya tidak boleh semuanya.

“Ini di kecamatan Winong kidul di dukuh Jrembun kok boleh mengadakan pesta dengan menggelar dangdutan pada malah hari, ini jelas mencederai hati masyarakat Pati pada umumnya,” keluhnya.

Istilahnya pilih kasih pada masyarakat, yang dekat dengan bagian perijinan APH bisa mengadakan kegiatan di malam hari, sedangkan masyarakat lain yang tidak ada kedekatan tidak mendapatkan izin.

“Timbul kecurigaan jangan-jangan tuh panitia pelaksana di Jrembun ada main mata dengan oknum APH Polsek winong. Besar harapan masyarakat Pati untuk tindak lanjut dari pihak keamanan untuk lebih transparan dan tegas dalam pembuatan aturan,” tutupnya.

Penelusuran awak media melalui sambungan telpon seluler yang mempertanyakan kejadian tersebut kepada inisial R salah satu petugas Kepolisian Polsek Winong menyatakan, bahwa yang lebih tau itu dari pihak bagian perijinan. Heri

Pasar Imlek Didorong untuk Kenalkan Produk Unggulan Pati

Cakranusantara.net, Pati || Sabtu, 7 Februari 2026 — Plt. Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menghadiri sekaligus membuka Pasar Imlek Pati Bumi Mina Tani 2026 di lingkungan Klenteng Hok Tik Bio, Kabupaten Pati. Kegiatan ini digelar sebagai upaya mendorong perputaran ekonomi daerah, khususnya bagi pelaku UMKM.

Plt. Bupati Pati menyampaikan bahwa Pasar Imlek memiliki peran strategis dalam menggerakkan roda perekonomian daerah.

Kegiatan ini dinilai mampu menjadi wadah promosi produk lokal sekaligus ruang interaksi sosial yang memperkuat harmoni masyarakat Kabupaten Pati.

“Pasar Imlek ini luar biasa. Kalau bisa digelar setahun dua kali, perputaran ekonomi di Kabupaten Pati akan sangat terasa. UMKM membutuhkan ruang seperti ini agar bisa terus tumbuh,” ujar Chandra.

Ia juga mengapresiasi konsistensi seluruh panitia yang setiap tahun menyelenggarakan Pasar Imlek.

Selain itu, kontribusi yayasan dalam kegiatan sosial, termasuk membantu penanganan bencana banjir, turut mendapat perhatian dari pemerintah daerah.

Chandra juga berpesan kepada para pelaku UMKM agar selalu menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan berjualan.

Ia berharap Pasar Imlek tidak hanya menjadi ruang transaksi ekonomi, tetapi juga mampu memberi kenyamanan bagi pengunjung serta menjadi magnet wisata yang mengenalkan produk unggulan Pati ke luar daerah.