oleh

“Para Romo” dan Suster Menanam Pohon di Bukit Kendeng

Pati – Cakranusantara.net | Komisi Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Keuskupan dan JPIC (Justice, Peace, Integrity of Creation) Tarekat se-Regio Jawa bersama dengan perwakilan warga Desa Wukirsari, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah lakukan penanaman pohon di desanya.

Kegiatan ini, menjadi salah satu rangkaian kegiatan Live in KKP-JPIC Regio Jawa pada tanggal 17 – 20 Oktober 2022. Live in adalah sebuah bentuk kegiatan bersama untuk tinggal dan mengalami secara nyata kehidupan di sebuah komunitas. Jum’at (28/10/2022).

Melalui Live in ini peserta mengikuti dinamika masyarakat atau komunitas yang ada, “sembari” belajar bersama tentang apa yang menjadi keprihatinan serta harapan komunitas tersebut.

“Live in kali ini diikuti sekitar 25 orang dari sejumlah wilayah diantaranya, dari Ibukota Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Klaten, dan Blitar. Program ini dan rekoleksi Komisi KPKC Keuskupan dan JPIC tarekat se-Regio Jawa sebelumnya berlangsung pada 21 – 25 Oktober 2019 di Dusun Semak, Desa Wukirsari”

Program ini berjalan dengan diikuti oleh 40 aktivis baik Imam, Suster, Bruder, dan awam katolik dari berbagai “keuskupan” dan tarekat di regio Jawa. Berawal dari live in pertama ini, ditemukan keprihatinan masalah air, dikarenakan kawasan Bukit Kendeng ini sangat gersang dan tandus karena semakin banyaknya bukit yang Gundul.

Desa Wukirsari terdiri dari 3 (tiga) pedukuhan dan 9 RT (rukun tetangga). Wilayah Dusun Semak merupakan wilayah terparah dalam krisis air, jika dibandingkan dengan 2 dusun lainnya (Dusun Gayam dan Dusun Gares).

Upaya pertama yang dilakukan oleh KPKC adalah menyediakan mobil tangki air sebagai alat pendistribusian air. Namun karena kerepotan dalam hal operasional, maka direkomendasikan untuk mencari sumber mata air.

Sebenarnya upaya masyarakat Dusun Semak untuk swadaya membuat sumur sudah berulangkali dilakukan. Setidaknya sudah ada tujuh titik yang pernah digali, dengan kedalaman sekitar Delapan hingga 15 meter, namun kesemuanya belum membuahkan hasil.

Masyarakat mengambil kesimpulan bahwa penggalian sumur secara manual tidak akan mampu menghasilkan sumber air, perlu dilakukan cara lain dan dengan bantuan teknologi yang lebih baik (sumur bor).

“Sumur bor akhirnya bisa dibuat atas swadaya masyarakat dan didukung oleh bak penampungan air yang berkapasitas kebutuhan 100 keluarga. Fasilitas pengadaan air bersih yang telah dilakukan waktu itu kini sudah dapat dinikmati oleh dua RT di dusun ini, terutama oleh 51 keluarga”

Kekuatan sumber air teruji melewati dua musim kemarau dan air tetap mengalir dengan baik ke rumah-rumah warga. Dalam perkembangan selanjutnya muncul kebutuhan untuk pengembangan komunitas pemanfaat air dan perluasan distribusi air ke RT yang lain.

Kegiatan penanaman pohon ini merupakan salah satu upaya memperkuat keberadaan sumber mata air. Dalam konteks lebih khusus, pohon-pohon tersebut mampu menjaga ketersediaan air di seputar sumur.

Disisi lain, penanaman pohon ini sebagai upaya menghijaukan kembali lahan-“lahan gundul” di wilayah “pengunungan Kendeng”. Berupa tanaman pete, jeruk Pamelo, alpukat, dan manga Thailand, ini dipilih untuk ditanam sebagai varietas tanaman yang cocok di lingkungan ini, juga mempunyai fungsi penguatan ekonomis, dimana hasil dari tanaman ini bisa dikonsumsi maupun dipasarkan dengan nilai jual yang baik.

Semoga dengan penanaman pohon ini menjadi gerakan bersama untuk mendorong tumbuhnya ekonomi masyarakat lewat budidaya pertanian sekaligus memastikan konservasi lingkungan lewat penanaman varietas tanaman yang mampu melindungi lingkungan dari ancaman bencana akibat salah kelola lahan.

Dengan demikian, kita Bersama-sama secara perlahan namun pasti, mampu menjawab jeritan alam sekaligus membantu komunitas marginal semakin berdaya dan sejahtera,” hal itu di ungkapkan oleh Kades Kauman, Juwana, Pati, Jawa Tengah Ahmad Purwanto melalui pesan tertulisnya.

(*/Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan